CURAHAN ILMU | "Selalu Mengalir Bagaikan Air"

Selasa, 16 Oktober 2018

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.11


Mengolah Limbah Industri Tahu Dan Tempe Menjadi Nata De Soya




Agrotekno
087875885444
Jual Bibit Bakteri Acetobacter xylinum

Di Indonesia, industri tahu dan tempe berkembang pesat. Hal ini disebabkan produk tahu dan tempe sangat digemari oleh masyarakat Indonesia karena disamping nikmat harganya juga murah. Berkembangnya industri tahu tempe memberikan dampak positif bagi terpenuhinya kebutuhan produk bergizi tinggi dan murah, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di sisi lain, perkembangnya industri tahu dan tempe membawa dampak negatif terhadap lingkungan, karena industri ini menghasilkan limbah cair yang masih belum termanfaatkan secara optimal. Limbah cair tersebut umumnya dibuang ke aliran sungai atau selokan, hal ini seringkali membuat meningkatnya oksigen demand pada lingkungan tersebut dan mendatangkan aroma tidak sedap. Limbah cair industri tahu dan tempe sebagian telah dimanfaatkan sebagai campuran konsentrat pakan ternak sapi atau kambing, namun, masih banyak yang belum termanfaatkan dan dibuang ke lingkungan. Industri tahu dan tempe akan lebih baik jika terintegrasi dengan upaya penanganan limbahnya, yaitu membuat peternakan ruminansia (kambing atau sapi) untuk menyerap limbah cair dan ampas kedelai. Selain itu limbah cair kedelai juga bisa diolah menjadi nata de soya sebagai bahan baku minuman.
Nata de soya adalah nata berbahan baku limbah cair industri olahan kedelai seperti tahu dan tempe. Pada industri tempe, yang digunakan untuk pembuatan nata de soya adalah limbah cair dari perebusan kedelai, sedangkan pada industri tahu adalah limbah cair dari proses pengendapan. Limbah cair yang masih mengandung banyak nutrisi akan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum. Limbah cair industri tahu dan tempe umumnya masih dibuang begitu saja, sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan berupa bau yang tidak sedap. Proses pembuatan nata de soya dari limbah industri tahu dan tempe diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomis limbah cair industri tahu dan tempe, serta mengatasi pencemaran lingkungan.
Nata de soya memiliki karakteristik kenampakan warna agak kecoklatan, memiliki cita rasa aroma khas kedelai saat setelah dipanen. Warna coklat dan aroma khas kedelai bisa dihilangkan dengan perebusan dan pencucian beberapa kali dengan menggunakan air bersih. Berikut ini adalah proses produksi pembuatan nata de soya dengan menggunakan bahan baku limbah industri tempe:
a). Bahan yang diperlukan
1.      50 liter limbah cair industri tahu atau tempe yang sudah asam (dibiarkan 3 hari)
2.      150 gram ZA (ammonium sulfat)
3.       200 gram gula pasir
4.      Asam asetat atau cuka 250 ml (jika diperlukan untuk menurunkan pH 3-4) 
5.      Bibit nata (Acetobacter xylinum)
b). Proses Pembuatan:
1.      Penyiapan nampan
Siapkan nampan sejumlah yang dibutuhkan, jika kita menuang media larutan per nampan 1,2 liter, maka dibutuhkan 42 nampan untuk satu kali perebusan per 50 liter larutan. Nampan yang akan digunakan ditutup koran dan diikat dengan menggunakan karet ban.

2.      Penyaringan media
Limbah cair industri tempe atau tahu yang akan digunakan sebagai media pembuatan  nata disaring dengan kain kasa, agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan.

3.      Perebusan
Perebusan dilakukan dengan menggunakan panci kapasitas 60 liter dengan menggunakan kayu bakar atau batu bara. Penambahan gula pasir dan asam cuka ke dalam media larutan, sambil dilakukan pengadukan. Jika larutan telah mendidih kemudian ditambahkan ZA.
4.      Inkubasi / Fermentasi
Larutan yang mendidih kemudian dituang pada nampan-nampan yang telah ditutup dengan menggunakan koran yang telah diikat dengan menggunakan karet ban. Kemudian disusun dalam rak-rak.  Setelah kurang lebih 8 jam sehingga larutan dalam  nampan menjadi dingin kemudian dilakukan inokulasi dengan menambahkan starter/bibit nata Acetobacter xylinum 10%.
5.      Pemanenan.
Setelah  pemeraman selama 7-10 hari, dilakukan pemanenan. Nata dengan kualitas baik dan nata terkontaminasi jamur dipisahkan. Nata terkena jamur dilakukan pengguntingan dan dibuang bagian yang terkena jamur.
6.      Pencucian
Nata hasil panen kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih. Kemudian setelah dicuci bersih dapat disimpan dalam drum plastik dalam bentuk lembaran-lembaran atau dipotong-potong dengan menggunakan mesin pemotong atau secara manual dengan menggunakan pisau.
7.      Penyimpanan
Nata yang telah menjadi potongan kemudian disimpan dalam drum plastik dengan penambahan air sampai permukaan nata tertutup air. Perawatan dilakukan dengan cara penggantian air tiap 3 hari sekali.

Mengolah Limbah Industri Tahu Dan Tempe Menjadi Nata De Soya

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.10


Agrotekno
087875885444
Jual Bibit Bakteri Acetobacter xylinum

Di Indonesia, industri tahu dan tempe berkembang pesat. Hal ini disebabkan produk tahu dan tempe sangat digemari oleh masyarakat Indonesia karena disamping nikmat harganya juga murah. Berkembangnya industri tahu tempe memberikan dampak positif bagi terpenuhinya kebutuhan produk bergizi tinggi dan murah, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di sisi lain, perkembangnya industri tahu dan tempe membawa dampak negatif terhadap lingkungan, karena industri ini menghasilkan limbah cair yang masih belum termanfaatkan secara optimal. Limbah cair tersebut umumnya dibuang ke aliran sungai atau selokan, hal ini seringkali membuat meningkatnya oksigen demand pada lingkungan tersebut dan mendatangkan aroma tidak sedap. Limbah cair industri tahu dan tempe sebagian telah dimanfaatkan sebagai campuran konsentrat pakan ternak sapi atau kambing, namun, masih banyak yang belum termanfaatkan dan dibuang ke lingkungan. Industri tahu dan tempe akan lebih baik jika terintegrasi dengan upaya penanganan limbahnya, yaitu membuat peternakan ruminansia (kambing atau sapi) untuk menyerap limbah cair dan ampas kedelai. Selain itu limbah cair kedelai juga bisa diolah menjadi nata de soya sebagai bahan baku minuman.
Nata de soya adalah nata berbahan baku limbah cair industri olahan kedelai seperti tahu dan tempe. Pada industri tempe, yang digunakan untuk pembuatan nata de soya adalah limbah cair dari perebusan kedelai, sedangkan pada industri tahu adalah limbah cair dari proses pengendapan. Limbah cair yang masih mengandung banyak nutrisi akan menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum. Limbah cair industri tahu dan tempe umumnya masih dibuang begitu saja, sehingga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan berupa bau yang tidak sedap. Proses pembuatan nata de soya dari limbah industri tahu dan tempe diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomis limbah cair industri tahu dan tempe, serta mengatasi pencemaran lingkungan.
Nata de soya memiliki karakteristik kenampakan warna agak kecoklatan, memiliki cita rasa aroma khas kedelai saat setelah dipanen. Warna coklat dan aroma khas kedelai bisa dihilangkan dengan perebusan dan pencucian beberapa kali dengan menggunakan air bersih. Berikut ini adalah proses produksi pembuatan nata de soya dengan menggunakan bahan baku limbah industri tempe:
a). Bahan yang diperlukan
1.      50 liter limbah cair industri tahu atau tempe yang sudah asam (dibiarkan 3 hari)
2.      150 gram ZA (ammonium sulfat)
3.       200 gram gula pasir
4.      Asam asetat atau cuka 250 ml (jika diperlukan untuk menurunkan pH 3-4) 
5.      Bibit nata (Acetobacter xylinum)
b). Proses Pembuatan:
1.      Penyiapan nampan
Siapkan nampan sejumlah yang dibutuhkan, jika kita menuang media larutan per nampan 1,2 liter, maka dibutuhkan 42 nampan untuk satu kali perebusan per 50 liter larutan. Nampan yang akan digunakan ditutup koran dan diikat dengan menggunakan karet ban.

2.      Penyaringan media
Limbah cair industri tempe atau tahu yang akan digunakan sebagai media pembuatan  nata disaring dengan kain kasa, agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan.

3.      Perebusan
Perebusan dilakukan dengan menggunakan panci kapasitas 60 liter dengan menggunakan kayu bakar atau batu bara. Penambahan gula pasir dan asam cuka ke dalam media larutan, sambil dilakukan pengadukan. Jika larutan telah mendidih kemudian ditambahkan ZA.
4.      Inkubasi / Fermentasi
Larutan yang mendidih kemudian dituang pada nampan-nampan yang telah ditutup dengan menggunakan koran yang telah diikat dengan menggunakan karet ban. Kemudian disusun dalam rak-rak.  Setelah kurang lebih 8 jam sehingga larutan dalam  nampan menjadi dingin kemudian dilakukan inokulasi dengan menambahkan starter/bibit nata Acetobacter xylinum 10%.
5.      Pemanenan.
Setelah  pemeraman selama 7-10 hari, dilakukan pemanenan. Nata dengan kualitas baik dan nata terkontaminasi jamur dipisahkan. Nata terkena jamur dilakukan pengguntingan dan dibuang bagian yang terkena jamur.
6.      Pencucian
Nata hasil panen kemudian dicuci dengan menggunakan air bersih. Kemudian setelah dicuci bersih dapat disimpan dalam drum plastik dalam bentuk lembaran-lembaran atau dipotong-potong dengan menggunakan mesin pemotong atau secara manual dengan menggunakan pisau.
7.      Penyimpanan
Nata yang telah menjadi potongan kemudian disimpan dalam drum plastik dengan penambahan air sampai permukaan nata tertutup air. Perawatan dilakukan dengan cara penggantian air tiap 3 hari sekali.


 

Berbisnis Pertanian Organik

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.09


Jual Aneka Culture Mikroba
087875885444

Bisnis pertanian adalah bisnis yang tidak akan pernah ada matinya, karena komoditas pertanian dan olahannya akan selalu dibutuhkan oleh manusia setiap hari dan sepanjang zaman. Berbagai kebutuhan hidup seperti beras, gula, sayur mayur, minyak goreng, tepung, kedelai, jagung, buah-buahan, umbi-umbian, dan lain-lain merupakan komoditas pertanian yang sangat diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, kebutuhan bahan pangan akan terus meningkat, sehingga produksi pertanian perlu terus ditingkatkan. Menurunnya produksi pertanian berdampak kepada naiknya harga-harga kebutuhan pangan yang seringkali di alami oleh suatu negara.
Selain dari aspek upaya peningkatan kapasitas produksi pertanian, upaya peningkatan mutu pertanian perlu dilakukan seiring dengan tuntutan kesadaran masyarakat untuk mendapatkan produk-produk pangan yang aman dikonsumsi bagi kesehatan. Hal ini menjadikan sebagian kalangan petani untuk memulai pertanian organi dimana dalam proses produksinya tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia, sehingga dihasilkan produk pertanian yang bebas residu bahan kimia.
Pertanian organik merupakan sistem manajemen produksi yang bertujuan untuk produksi yang sehat dengan menghindari penggunaan kimia berbahan aktif dalam hal ini pupuk kimia maupun pestisida kimia untuk menghindari pencemaran udara tanah dan air juga hasil produksi pertanian pada khususnya. selain itu, pertanian organik juga menjaga keseimbangan ekosistem dan sumberdaya alam yang terlibat langsung dalam proses produksi. Sistem pertanian organik memberikan beberapa manfaaat diantaranya adalah:
1.       Tanaman menjadi sehat, bebas dari bahan kimia aktif, residu, baik dari akibat oleh pestisida ataupun pemupukan.
2.       Hasil produksi akan lebih sehat.
3.       Menjadi pertanian yang mampu menjaga kelestarian alam dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Sistem pertanian organik adalah mengindari penggunaan sarana pertanian yang berbahan kimia aktif, dan menggunakan sarana pertanian baik pupuk atau pestisida organik. Namun, pertanian di Indonesia masih sedikit yang menggunakan pertanian sistem organik, kebanyakan petani masih melakukan sistem pertanian konvensional, ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan tentang sistem pertanian organik. Meskipun pemerintah sudah mulai melaksanakan sistem pertanian berkelanjutan yang tujuannya adalah pertanian organik yang memperhatikan aspek kelestarian alam namun program ini belum sepenuhnya terserap oleh petani indonesia.
Memang, secara umum, hasil produksi pertanian organik masih sedikit dibandingkan dengan hasil yang anorgnik. Hal ini yang membuat para petani secara umum, belum tertarik untuk mengembangkan pertanian organik. Namun, kalau ditinjau dari aspek pasar, produk-produk pertanian organik memiliki harga yang lebih mahal, sehingga hal ini menjadi daya tarik pula bagi sebagian kalangan petani yang mau untuk bertani secara organik.
Sistem pertanian organik memanfaatkan pupuk organik dan pestisida organik (nabati), karena dalam sistem pertanian pupuk dan pestisida merupakan sarana produksi yang utama. Pengguanaan pupuk organik sangat menentukan arah sistem pertanian kedepannya, menjadi organik atau akan tetap menjadi pertanian konvensional, dalam hal konversi juga penggunaan pupuk organik akan menjadi hal yang perlu diperhatikan, untuk mengembalikan kesuburan tanah volume pupuk organik akan ditambah dengan tujuan untuk menyehatkan tanah dan membebaskan dari unsur residu.  

Penggunaan pestisida kimia tidak dianjurkan dalam pertanian organik, yang nantinya akan kembali merusak keberlangsungan pertanian organik, namun pengendalian hama dianjurkan menggunakan pestisida nabati atau pestisida organik. Pestisida organik dapat memanfaatkan bahan-bahan organik, seperti daun-daunan yang mengandung antibakteri, atau memanfaatkan agen mikroba seperti Tricoderma viridae, tricodherma harzianum untuk melawan penyakit tanaman jenis fungi.

Peluang Bisnis Pertanian Sistem Hidroponic

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.09




Bertani merupakan aktifitas yang menyenangkan dan menghasilkan uang. Umumnya orang berfikir untuk menggeluti bisnis pertanian harus tersedia lahan yang luas seperti sawah, ladang, atau kebun. Gagal panen, harga anjlok, perawatan yang rumit, dan lain-lain, merupakan beberapa alasan orang takut untuk memulai bisnis pertanian. Kendala-kendala tersebut merupakan tantangan yang harus diatasi, bukan menjadi momok. Tidak hanya di desa, di perkotaan pun memungkinkan untuk melakukan bisnis pertanian. Dengan menggunakan sistem hidroponik, maka tidak membutuhkan media tanah, efesien tempat, dan dapat terkendali lebih efektif dari serangan hama dan penyakit. Dengan menggunakan instalasi dari peralon, atau wadah-wadah bekas, kita dapat menempatkannya di halaman, atap, atau membuat greenhouse. Di negara-negara maju, teknik hydroponic sudah sangat berkembang dan efektif menunjang produksi sayuran dan buah-buahan.
Seiring dengan permintaan produk sayuran yang fresh dan organic, maka produk pertanian hydroponic semakin diminati dan permintaannya semakin meningkat. Oleh karena itu pertanian sistem hydroponic menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Pertanian sistem organic bisa dilakukan secara profesional dengan skala yang besar atau sekedar hobi saja. Bagi yang memiliki keterbatasan modal, dapat pula menggunakan wadah-wadah  bekas seperti bekas botol air mineral, kaleng, dan lain-lain.
Pasar sayuran hidroponik terus tumbuh, 10—20% per tahun. Peluang bagi para (calon) pekebun sayuran tanpa tanah itu. Beberapa jenis sayuran hydroponic yang banyak dipasarkan seperti selada, caisim atau sawi, pakcoy, kailan, kangkung, bayam hijau dan bayam merah, Lettuce Romaine, Lolorosa, Butter Head dan Pagoda. Pemasaran dilakukan ke swalayan, hotel, supermarket, komunitas organic. Dengan sistem organic, hasil panen pertanian organic dapat dijual dengan harga lebih mahal.
Menanam hidroponik itu mudah dan menyenangkan, betapa tidak. Cara bertanam secara hidroponik memiliki berbagai teknik mulai yang paling sederhana sampai yang canggih, mulai yang murah sampai yang mahal. Mulai yang hanya menggunakan barang bekas, sampai yang modern dengan menggunakan green house dan teknologi tepat guna lainnya untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Selanjutnya, pada kesempatan ini  mari kita coba menanam dengan cara yang paling sederhana yaitu Hidroponik sistem Wick.
Teknik bertanam dengan sistem hidroponik ada beberapa macam diantaranya adalah sistem Wick (sumbu), sistem NFT. Sistem Wick paling mudah dan murah, sehingga dapat diaplikasikan untuk pemula dengan modal pas-pasan. Kita bisa menggunakan berbagai bahan bekas seperti botol minuman mineral adalah yang paling sering kita lakukan terutama oleh para pemula. Sebagai langkah awal, mari kita persiapkan berbagai bahan yang dibutuhkan untuk memulai bertanam secara hidroponik sederhana.


1.      Botol bekas minuman mineral 1,5 - 2 liter.
2.      Solder sebagai pelubang
3.      Gunting sebagai pemotong
4.      Media tanama seperti sekam bakar, cocopeat.
5.      Nutrisi hidroponik / pupuk hidroponik biasanya pakai Nutrisi Hidroponik AB Mix.
6.      Kain flanel.

Pada cara bertanam hidroponik sistem wick, sumbu yang digunakan bisa dari sumbu kompor, kapas atau kain bekas. Akar tanaman tidak dicelupkan langsung ke dalam air, melainkan, mereka tumbuh dalam beberapa bahan penahan air seperti rockwool atau sabut kelapa. Cara bertanam hidroponik sistem sumbu adalah pasif, tidak ada energi atau listrik yang  digunakan untuk memberikan solusinutrisi hidroponik pada tanaman. Ujung sumbu ditempatkan dalam reservoir yang berisi larutan nutrisi. Ujung lain dari sumbu ditempatkan dalam media tanam, lebih dekat ke akar tanaman, untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar. Karena tanaman membutuhkan lebih banyak air dan nutrisi, maka disusun sumbu dan ke penahan air media tanam oleh tindakan kapiler. Dengan demikian tanaman mengambil  larutan nutrisi  dari ujung-ujung sumbu dan media tanam yang terlewati oleh sumbu menjadi lembab.
Dalam sistem sumbu hidroponik udara tersedot oleh akar tanaman bersama dengan larutan nutrisi. Sebuah media tumbuh yang memadai juga membantu untuk memastikan bahwa tanaman menerima cukup udara. Dengan sistem hidroponik sumbu, sebagai reservoir akan habis, dapat diisi lagi dengan manual. Hal ini tidak perlu menggunakan pompa seperti yang dilakukan dalam  sistem hidroponik lainya.

Cara Produksi Nata De Coco

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.09




Cara Produksi Nata De Coco


087875885444



Agrotekno
Bibit Nata De Coco (Acetobacter xylinum)


            Nata de coco adalah salah satu produk olahan kelapa yang berasal dari air kelapa, atau santan yang difermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Melalui proses fermentasi tersebut, air kelapa atau santan kelapa diubah menjadi berbentuk jel seperti agar, berserat tinggi, berwarna putih yang disebut nata. Nata sebelum diolah menjadi produk olahan rasanya masih tawar dan sedikit asam, namun setelah diolah menjadi minuman sirup, puding, dan lain-lain cita rasa nya menjadi nikmat. Minuman kemasan nata de coco sangat di minati di Indonesia, dan negara-negara luar seperti di Jepang, Eropa, Arab, dan lain-lain. Permintaan produk olahan nata de coco sangat tinggi baik domestic maupun luar negeri. Di Indonesia produsen minuman nata de coco umumnya masih didominasi oleh produsen-produsen besar seperti Inaco, Wong Coco, Garuda Food, Santan Kara, dan lain-lain. Namun, produk nata de coco produksi home industri juga banyak tersebar di seluruh Indonesia.
            Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan industri nata de coco, karena memiliki produksi kelapa yang cukup tinggi. Industri ini dapat dikembangkan secara home industri karena hanya membutuhkan alat-alat yang sederhana, dan modal yang tidak terlalau besar. Selain itu, pasar masih terbuka lebar, baik pasar lokal maupun luar negeri. Di beberapa negara maju, nata de coco telah diolah menjadi produk non-pangan seperti bahan dasar elektronik, dan lain-lain. Ini menjadi peluang yang lebih besar bagi industri nata de coco untuk terus maju dan berkembang.
            Nata de coco pertama kali berasal dari Filipina. Di Indonesia, nata de coco mulai diperkenalkan pada tahun 1973 dan  mulai dikenal luas di pasaran pada tahun 1981. Kata nata berasal dari bahasa Spanyol yang berarti krim. Nata dalam bahasa Latin  'natare'  berarti terapung. Nata dapat dibuat dari berbagai macam media antara lain air kelapa (nata de coco), singkong atau limbah pengolahan singkong (nata de cassava), limbah pengolahan nanas (nata de pina), dan lain-lain. Di Indonesia, nata de coco sering disebut sari kelapa.
            Nata de coco pada mulanya adalah produk yang diorientasikan untuk menangani limbah air kelapa sehingga dianggap hanya sebagai produk sampingan saja. Saat ini telah beredar di pasaran produk nata de coco dalam berbagai bentuk kemasan dan cita rasa yang  beragam, baik produk yang diproduksi industri  kecil atau industri besar dengan harga yang cukup lumayan. Meskipun bersaing cukup ketat, akan tetapi pangsa pasar yang tersedia cukup besar. Namun saat ini permintaan nata de coco oleh industri  minuman yang begitu besar maka produk nata de coco bukan lagi sekedar produk sampingan. Bahkan mampu menjadi produk unggulan karena memiliki prospek pasar yang cerah ke depannya. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan industri nata de coco karena memiliki pangsa pasar yang besar dan bahan baku yang melimpah  tersebar hampir di seluruh pelosok negeri serta SDM yang murah.
            Di Indonesia terdapat beberapa perusahaan besar yang memproduksi nata de coco menjadi produk minuman siap saji antara lain wong coco, inaco, garuda food, serta beberapa industri kecil lainya yang sudah tersebar di seluruh pelosok tanah air. Untuk memenuhi kontinuitas kebutuhan bahan baku nata yang cukup besar, industri besar bermitra dengan para petani-petani nata de coco yang menghasilkan bahan nata setengah jadi dalam bentuk lembaran-lembaran.
Selain nata de coco, Indonesia juga sangat potensial mengembangkan nata de cassava karena bahan bakunya melimpah yaitu singkong atau berasal dari limbah industri pengolahan singkong seperti industri tapioca atau mocaf.Nata de cassava memiliki karateristik tidak jauh berbeda dengan nata de coco yaitu warnanya putih, kenyal, dan kandungan seratnya tinggi.Selain itu, nata de cassava juga memiliki tekstur yang halus rata pada bagian permukaannya dan memiliki aroma tidak menyengat.Nata de cassava memiliki potensi yang besar menjadi pesaing produk nata de coco, karena memiliki kualitas produk yang tidak kalah dengan nata de coco.Saat ini, produk minuman kemasan nata de cassava sudah mulai populer.
            Disamping sebagai produk bahan minuman, nata saat ini sudah semakin familier digunakan untuk berbagai makanan kecil antara lain kue puding, manisan, es campur, dan lain-lain. Di pasar domestik, permintaan nata de coco dan nata de cassava biasanya meningkat tajam pada saat menjelang hari raya Lebaran, Tahun Baru, natal dan acara-acara  penting lainnya. Tingginya permintaan produk nata de coco atau nata dari bahan lainnya oleh industri minuman merupakan bisnis yang menarik untuk dikembangkan.Usaha produksi nata de coco atau nata de cassava mudah dijalankan meskipun dalam skala home industri.Selain itu, proses produksi nata de coco atau nata de cassava sederhana dan alat-alatnya tidak bermodal besar sehingga dapat dilakukan siapa saja yang memiliki tekad yang kuat dan tekun.

B. Proses Produksi Nata De Coco
            Proses produksi nata de coco relatif mudah, namun butuh keuletan dan kerja keras. Sebelum proses produksi nata de coco, maka langkah awal adalah penyediaan tempat, alat, dan bibit nata de co (Acetobacter xylinum). Kemudian bibit Acetobacter xylinum tersebut dikembangbiakan dengan menggunakan botol-botol sirup dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan untuk produksi nata de coco dalam bentuk lembaran. Setelah proses produksi nata de coco lembaran berhasil dengan baik, langkah selanjutnya adalah dengan mengolahnya menjadi minuman kemasan dengan ditambahkan sirup dan dikemas dengan gelas plastik.

            Setelah menyediakan tempat, alat, bahan, dan perbanyakan bibit, maka langkah selanjutnya adalah pembuatan nata de coco dalam bentuk lembaran. Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
a. Penyiapan Bahan per panci 50 ltr
1.      Air kelapa 50 liter
2.      Za 200 gr
3.      Gula pasir 200 gr
4.      Asam asetat / asam cuka untuk menurunkan keasaman (pH 3-4)

b. Kebutuhan Alat
1.      Nampan ukuran 34 x 27 x 5 cm, 2000 nampan.
2.      Timbangan kapasitas 1000 gr untuk menimbang bahan di bawah 1000 gr.
3.      Tungku berbahan bakar kayu.
4.      Corong plastik  untuk memasukkan air kelapa dan minyak tanah.
5.      Saringan plastik diameter 30 cm, untuk memisahkan kotoran
6.      Panci stainless kapasitas 50 liter, 4 buah untuk merebus media air kelapa.
1.      Bak plastik kapasitas 30 lt 6 buah untuk  penampung nata lempeng
2.      Kertas koran ukuran 36 x 28 cm 50 Digunakan menutup nampan selama fermentasi
3.      Gelas ukur plastik kapasitas 1 liter sebagai alat ukur volum untuk  menuang cairan ke dalam nampan
4.      Kain lap untuk membersihkan nampan.
5.      Karet ban sesuai ukuran nampan untuk mengikat koran pada loyang
6.      Karet gelang untuk mengikat loyang agar koran tidak menempel di media.
7.      Pengaduk kayu  untuk mengaduk air kelapa pada  saat perebusan.

c. Penyiapan Alat
1. Nampan
Nampan adalah wadah yang digunakan untuk proses inokulasi media air kelapa menjadi nata lempeng/lembaran. Pemilihan jenis nampan berdasarkan ukuran, kualitas dan harga. Sebelum digunakan, nampan dicuci menggunakan sabun dan air bersih, kemudian dijemur.

2. Koran
Koran digunakan untuk menutup nampan selama proses fermentasi. Koran yang digunakan harus bersih, tidak kusut, sobek, atau berlubang, tidak basah, tidak terkena bahan-bahan kimia berbahaya, dan steril tidak ditumbuhi oleh jamur atau bakteri.

3. Alat Perebus
Panci yang digunakan kapasitas 50 liter, tahan karat (stainless steel).Jumlah panci yang digunakan disesuaikan tingkap produksi per hari.
4.  Ruang Fermentasi
Ruang fermentasi diusahakan sedemikian rupa mendukung untuk perkembangbiakan bakteri Acetobacter xylinum, dan juga mendukung kegiatan pekerja melakukan aktifitas produksi.Suhu ruang dikondisikan 28˚ -32˚C.Ruang fermentasi diusahakan bersih dan terkondisi dengan asam.
5. Tempat Penyimpanan Air Kelapa dan Hasil Panen Nata
Sebelum dilakukan proses produksi, maka air kelapa ditampung terlebih dahulu. Demikian juga hasil panen, nata de coco sebelum diolah lebih lanjut atau dijual dalam bentuk lembaran, maka ditampung terlebih dahulu dengan menggunakan jerigen dan drum-drum plastik.Air kelapa yang tercecer ditempat penampungan dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, karena itu jagalah kebersihan dan sesering mungkin membilas dengan air dan alirkan ke selokan.

Prosedur Kerja Proses Produksi Nata Lembaran
1.      Langkah pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan nampan yang akan digunakan. Kemudian nampan tersebut ditutup koran dan di ikat dengan tali karet ban.
2.      Air kelapa yang akan digunakan disaring dengan menggunakan saringan untuk memisahkan kontaminan berupa material fisik.
3.      Masukan  air kelapa sebanyak 50 lt ke dalam panci.
4.      Rebus air kelapa sampai mendidih. Buanglah busa yang terbentuk selama pemanasan.
5.      Setelah mendidih tambahkan bahan-bahan pembantu gula pasir, ZA, dan  terakhir asam cuka/asam asetat.
6.      Selanjutnya larutan tersebut dalam keadaan panas dituangkan dalam nampan yang telah ditutup korandan diikat tali karet ban dengan cara membuka salah satu bagian ujung nampan.
7.      Setelah media air kelapa dingin (suhu kamar) kira-kira 7 jam, ditambahkan stater Acetobacter xylinum sebanyak 100-120 ml untuk tiap 1.2 liter media dan wadah ditutup kembali dengan koran. Inkubasi dilakukan selama 8 hari dalam ruangan yang telah dikondisikan suhu, kelembaban dan kebersihan lingkungannya. Ruang fermentasi diusahakan tertutup, kering dan tidak ada aktivitas orang yang lalu lalang.
8.      Setelah proses inkubasi selama 8 hari,dilakukan pemanenan. Ketebalan nata dapat mencapai 1- 1.5 cm. Dalam kondisi normal fermentasi selama 8 hari sudah mencapai ketebalan yang dimaksud. Nata lempeng dipisahkan dari nampan ditampung sementara dengan menggunakan ember. Media yang tidak jadi atau atau berjamur dipisahkan langsung dengan menggunakan wadah yang berbeda.
9.      Sortasi atau pemisahan nata berdasarkan kualitas. Sortasi dilakukan sebelum lembaran nata tersebut dimasukan dalam wadah penampungan. Jangan mencampurkan lempengan nata yang bagus dengan yang jelek. Nata yang terkontaminsasi dengan jamur, berlubang, tipis dipisahkan sendiri.
10.  Penyimpanan nata dalam bak atau drum plastik dengan menambahkan air kurang lebih 20% volume bak atau drum plastik tersebut.  Selama penyimpanan hindari terkena cahaya matahari secara langsung, terkontaminasi dengan bahan kimia berbahaya, kekurangan air. Dan harus sering melakukan penggantian air agar nata tetap baik.

Teknik Produksi Nata De Cassava

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.08



Agrotekno Lab
087875885444
Jual Bibit Nata (Acetobacter xylinum)


Secara umum tahapan proses produksi nata de cassava adalah sebagai berikut: pengupasan singkong; pencucian, pemarutan, pengenceran, perendaman, perebusan I, pendinginan, penyaringan, perebusan II, fermentasi, pemanenan, pengolahan. Untuk memproduksi nata de cassava dapat menggunakan formulasi  sebagai berikut: larutan singkong 50 liter, ZA 150 gr, Asam asetat 200 ml, enzim alfa-amylase 2,5 ml, enzim  gluco-amylase 1,5 ml. Urutan proses pembutan nata de cassava adalah sebagai berikut:
1.            Pengupasan
Singkong yang telah ditimbang, kemudian dikupas dengan menggunakan pisau. Kemudian singkong yang telah dikupas ditampung dalam ember yang berisi air agar tidak terjadi penambahan asam sianida yang menyebabkan warna singkong menjadi biru dan berasa pahit.
2.            Pencucian
Singkong yang telah dikupas, kemudian dicuci hingga bersih dengan menggunakan air yang mengalir.
3.            Pemarutan
Proses pemarutan dilakukan dengan menggunakan mesin pemarut. Proses pemarutan dengan menggunakan mesin pemarut lebih efesien dan lebih cepat.
4.            Pengenceran
Singkong yang telah diparut kemudian diencerkan dengan penambahan air bersih kurang lebih 10 liter per 1 Kg umbi singkong yang telah dikupas. Air yang digunakan untuk pengenceran harus dengan menggunakan air yang bebas dari bahan kimia seperti kaporit atau tercemar bahan kimia lainnya.
5.            Perebusan I
Tambahkan enzim αlfa-amilasi sebanyak 2,5 ml. Kemudian lakukan pengadukan sampai merata. Setelah mendidih, larutan diangkat kemudian pada saat proses pendinginan mencapai suhu kurang lebih 60-65˚C ditambahkan enzim gluco-amylase sebanyak 1,5 ml, biarkan sampai dingin kurang lebih 2-3 hari agar terjadi proses pengasaman.
6.            Penyaringan
Setelah larutan menjadi dingin lakukan penyaringan dan pemerasan/pengepresan dengan menggunakan kain atau menggunakan alat pengepres mekanik.
7.            Perebusan II
Larutan sebanyak 50 liter yang telah disaring dan dipisahkan ampasnya, kemudian direbus lagi. Kemudian tambahkan asam asetat sebanyak 200 ml. Setelah mendidih tambahkan ZA (ammonium sulfat) sebanyak 150 gram.
8.            Fermentasi

Setelah larutan mendidih, susun nampan yang telah ditutup koran pada rak. Kemudian buka bagian salah satu bagian ujung nampan, tuangkan larutan ke dalam nampan kemudian ditutup kembali dan diikat dengan tali karet ban, disusun di rak sebagaimana dalam proses produksi nata de coco seperti di atas, kemudian diinokulasi dengan penambahan bibit Acetobacter xylinum sebanyak 10 % atau kurang lebih 100-120 ml,

Peluang Bisnis Yogurt Dan Cara Produksinya

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.08
Agrotekno Lab
087875885444
Jual Bibit yogurt 




Yogurt adalah salah satu produk olahan susu yang difermentasi dengan menggunakan bakteri asam laktat. Produk yogurt saat ini kian popular dan banyak diminati semua kalangan di Indonesia. Melalui proses proses fermentasi dengan menggunakan bakteri asam laktat (BAL) sehingga dihasilkan produk yogurt dengan cita rasa asam-manis, aromanya lebih menarik, tidak amis, dan terasa lebih nikmat. Yogurt memiliki kandungan nutrisi yang tinggi yang sangat diperlukan oleh tubuh, dan kandungan bakteri asam laktat-nya berfungsi sebagai probiotik sangat baik khususnya untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan. Karena itulah, yogurt saat ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Susu yang digunakan pada proses pembuatan yogurt dapat berasal dari susu sapi, susu kerbau, susu kambing dan sari kedelai. Yogurt berbahan baku sari kedelai sering disebut soygurt.
Yogurt saat ini telah banyak beredar di pasaran baik di toko-toko atau supermarket dengan berbagai jenis merk, kemasan, ukuran, dan cita rasa. Umumnya produk yogurt yang di pasaran dikemas dengan menggunakan botol plastik atau botol kaca. Beberapa produk yogurt yang banyak beredar di pasaran telah dikombinasi dengan aneka sari buah seperti jeruk, strawberry, melon, mulberry, peach, blueberry, buah naga, lecy, dan lain-lain. Dengan penambahan sari buah tersebut tentu menambah cita rasa khas buah yang menyebabkan produk yogurt semakin variatif dan memberikan banyak pilihan kepada konsumen. Beberapa jenis yogurt yang banyak beredar dipasaran antara lain; cimory, yummy, dan produk-produk skala home industri. 
Kita bisa dapat membuat produk yogurt kemasan yang dipasarkan  secara luas melalui toko, supermarket atau kita juga bisa membuka semacam kedai yogurt dengan desain dan sajian yang menarik.
Secara sederhana tahapan proses pembuatan beberapa jenis yogurt (plain yogurt, concentrade yogurt, frozen yogurt, drink yogurt) adalah sebagai berikut:
1)      Susu segar dipanaskan sampai suhu 85 - 90 °C. Lakukan pengadukan secara terus menerus supaya proteinnya tidak mengalami koagulasi kurang lebih 30 - 60 menit. Jika pemanasan dilakukan pada pada suhu 70 – 75 °C (pasteurisasi), maka lama pemanasan dilakukan sebanyak dua kali.
2)      Setelah dipanaskan, selanjutnya dilakukan pendinginan sampai suhunya 37- 42°C. Pendinginan tersebut dilakukan dalam wadah tertutup.
3)      Setelah suhu mencapai 37- 42 °C, lakukan inokulasi / penambahan bakteri ke dalam susu tersebut sejumlah 50 ml/liter susu. Penambahan bakteri dilakukan dengan teknik aseptic (di dekat api).
4)      Setelah ditambah bakteri, selanjutnya diinkubasi pada suhu (37-40 °C), dalam keadaan tertutup rapat selama 6-24jam.
5)      Yogurt yang kita dapatkan dari proses di atas adalah jenis yogurt plain yogurt. Supaya yogurt lebih lezat rasanya dapat ditambah dengan potongan buah – buahan yang segar, cocktail, nata de coco atau dibekukan menjadi es, dapat pula dicampur dengan berbagai buah-buahan untuk dibuat juice (minuman segar).

SUKSES BUDIDAYA UDANG GALAH

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.04


   

 Udang galah adalah jenis udang air tawar yang memang memiliki potensi pasar yang cukup besar karena banyak diminati oleh konsumen baik dalam negeri maupun luar negeri. Udang galah memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan harga jual mencapai Rp.80.000 per Kg. Ini menjadi daya tarik yang tinggi bagi para peminat bisnis sektor perikanan di Indonesia. Beberapa pasar luar negeri di antara nya adalah pasar Eropa, Jepang, dan beberapa negara lainnya. Harga jual yang cukup tinggi menyebabkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan budidaya ikan air tawar seperti lele, patin, emas, nila, dan lain-lain. Pasar udang galah masih terbuka cukup labar, sehingga merupakan peluang bisnis yang cukup menggiurkan. 

    
Budidaya udang galah tidak sulit, hanya saja butuh ketelatenan dan ketekunan. Budidaya udang galah bisa dilakukan di kolam ataupun tambak darat.  Budidaya udang galah sudah meluas di berbagai daerah, di antaranya; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali. Untuk menunjang keberhasilan kegiatan/usaha budidaya maka dibutuhkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha yang dimiliki oleh pembudidaya.
Tahapan memulai budidaya udang galah adalah:

1. LOKASI BUDIDAYA

Perencanaan pembangunan wadah budidaya harus memenuhi persyaratan antara lain; kawasan bebas banjir dan pencemaran, jenis tanah liat berpasir, kolam dibuat pada ketinggian 0-700 meter dpl.
Air tersedia sepanjang tahun, bebas polusi, sirkulasi air harus bagus, bebas pencemaran, bebas polusi. Debit air yang dianjurkan 0,5-1 liter per detik untuk luasan kolam 300-1.000 m2.

2. BAHAN DAN ALAT

Seperti budidaya di kolam pada umumnya, peralatan yang umum digunakan antara lain; alat pengangkut benih, serok, ember, seser, timbangan, Ayakan halus dari kain, cangkul.

3. PENGELOLAAN AIR

Sirkulasi air yang baik memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembesaran udang galah. Sebaiknya air dikolam harus mengalir. Untuk kolam pemeliharaan dengan media yang tidak mengalir kualitas air cenderung menurun setelah satu bulan masa pemeliharaan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan penggantian air sebanyak 30-50% dengan air yang baru.
C, dengan pH 6,5-8,5. Oksigen°Suhu optimum yang diperlukan adalah 28-30 terlarut minimal adalah 4 ppm, diperlukan juga Ca minimal 52 ppm dan salinitas 0-5 ppt.

4. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT

Adanya hama dan penyakit ditentukan dengan pemeriksaan yang dilakukan secara visual terhadap organisme pengganggu baik yang bersifat predator maupun kompetitor.
Hama yang sering mengganggu dikolam pemeliharaan adalah ikan-ikan liar yang masuk tanpa sengaja seperti ikan gabus, lele dan lain-lain. Untuk mencegah masuknya hama pemangsa tersebut perlu dibuat saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air kolam berupa hapa yang terbuat dari jaring dengan mesh size 0,2 mm.
Dalam proses pembesaran diperlukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebagai berikut :
  1. Pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dilakukan secara acak dengan jumlah udang sesuai dengan kebutuhan untuk pengamatan visual maupun mikroskopik.
  2. Pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) .
  3. Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad pathogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
Penyakit yang sering menyerang adalah udang berlumut yang disebabkan kedalaman air di kolam kurang memadai dengan sirkulasi yang kurang baik, untuk mengatasi masalah dengan sirkulasi air bisa dipasang kincir angin.

5. MASA PANEN UDANG GALAH

Udang galah dapat dipanen setelah 4 bulan, 6 bulan, atau bahkan lebih, sesuai dengan ukuran udang yang dibutuhkan oleh konsumem. Biasanya udang galah dapat mulai dijual setelah mencapai ukuran 20 – 25 gram/ekor, tetapi semakin besar ukuran udang harganya juga semakin mahal.
Demikian beberapa tekis praktis budidaya udang galah, tahapan budidaya udang galah, serta gambaran keuntungan dari budidaya udang galah. Semoga dapat menginspirasi dan bermanfaat.
(sumber: buka-usaha.com)

JUAL BIBIT NATA DE COCO (ACETOBACTER XYLINUM)

by Vidiansyah (Khalil Rahman)  |  at  21.04


Telp. 087875885444


Acetobacter xylinum adalah bakteri yang mampu memfermentasi bahan menghasilkan nata (bahan selulosa berupa jeli). Acetobacter xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek, mempunyai panjang kurang lebih 2 mikron dan permukaan dindingnya berlendir. Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan asam organik lain pada waktu yang sama, dan mempolimerisasi glukosa sehingga terbentuk selulosa. Bakteri ini biasa digunakan untuk membuat nata de coco/nata de soya/nata de cassava. Bakteri ini merupakan bakteri yang menguntungkan dan tidak berbahaya. 
Acetobacter xylinum memiliki ciri-ciri antara lain merupakan gram negatif pada kultur yang masih muda, sedangkan pada kultur yang sudah tua merupakan gram positif, bersifat obligat aerobic artinya membutuhkan oksigen untuk bernafas, membentuk batang dalam medium asam, sedangkan dalam medium alkali berbentuk oval, bersifat non mortal dan tidak membentuk spora, tidak mampu mencairkan gelatin, tidak memproduksi H2S, tidak mereduksi nitrat dan termal death point pada suhu 65-70°C.
Acetobacter xylinum mengalami pertumbuhan sel secara teratur, mengalami beberapa fase pertumbuhan sel yaitu fase adaptasi, fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan eksponensial, fase pertumbuhan lambat, fase pertumbuhan tetap, fase menuju kematian, dan fase kematian. Acetobacter xylinum akan mengalami fase adaptasi terlebih dahulu jika dipindahkan ke dalam media baru. Pada fase ini terjadi aktivitas metabolisme dan pembesaran sel, meskipun belum mengalami pertumbuhan. Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi. Fase pertumbuhan awal dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah. Fase ini berlangsung beberapa jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari. Pada fase ini bakteri mengeluarkan enzim ektraseluler polimerase sebanyak-banyaknya untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa. Fase pertumbuhan lambat terjadi karena nutrisi telah berkurang, terdapat metabolit yang bersifat racun yang menghambat pertumbuhan bakteri dan umur sel sudah tua. Pada fase ini pertumbuhan tidak stabil, tetapi jumlah sel yang tumbuh masih lebih banyak dibanding jumlah sel mati. Fase pertumbuhan tetap terjadi keseimbangan antara sel yang tumbuh dan yang mati. Matrik nata lebih banyak diproduksi pada fase ini. Fase menuju kematian terjadi akibat nutrisi dalam media sudah hampir habis. Setelah nutrisi habis, maka bakteri akan mengalami fase kematian. Pada fase kematian, sel dengan cepat mengalami kematian tidak baik untuk dijadikan strain nata.
Pertumbuhan Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah kandungan nutrisi meliputi jumlah karbon dan nitrogen, tingkat keasaman media, pH, temperatur, dan udara (oksigen). Suhu optimal pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum pada 28–31˚C, pH optimal 3-4, memerlukan oksigen sehingga dalam fermentasi tidak ditutup dengan bahan kedap udara sehingga tidak memungkinkan udara masuk sama sekali, tutup untuk mencegah kotoran masuk ke dalam media yang dapat mengakibatkan kontaminasi.
Bibit Acetobacter xilynum berasal dari kultur murni yang sudah ada dapat dikembangbiakan dengan menggunakan media air kelapa atau substrat nanas. Bibit Acetobacter xilynum  yang dikembangkan dipilih dari bibit yang memiliki kualitas baik tidak terkontaminasi mikroorganisme lain, umur 4-10 hari.

Proudly Powered by Blogger.